Aku hanya main dengan tangan. Bokep Tante Tapi saya gerah.” meloncat begitu saja kata-kata itu.Aku belum pernah berani bicara begini, di angkot dengan seorang wanita, separuh baya lagi. Ayo cepat ia hampir selesai membersihkan belakang paha. Aku menikmati kelincahan lidah wanita setengah baya yang tahu di mana titik-titik yang harus dituju. Benarkan kesempatan itu lewat. Kesempatan tidak akan datang dua kali. Wajahku mulai panas. Wajahku merah padam. Ia membersihkan punggungku dengan handuk hangat. Sekenanya saja kubuka halaman majalah.“Tunggu ya..!” ujar wanita tadi dari jauh, lalu pergi ke balik ruangan ke meja depan ketika ia menerima kedatanganku.“Mbak Wien.., udah ada pasien tuh,” ujarnya dari ruang sebelah.




















