Tetapi eh.., diam-diam ia mencuri pandang ke arah juniorku. Masih menutupi diri dengan tabloid. Bokep Jilbab/Hijab Penumpang lima lalu supir, jadi enam kali tujuh, 42 hore aku turun. Lalu ngomong apa? Wajahku mulai panas. Ah.., wanita yang lehernya berkeringat itu begitu besar mengubah keberanianku.“Buka bajunya, celananya juga,” ujar wanita tadi manja menggoda, “Nih pake celana ini..!”Aku disodorkan celana pantai tapi lebih pendek lagi. Ya tidak apa-apa, hitung-hitung olahraga. Pletak, pletok, sepatunya berbunyi memecah sunyi. Membuang napas. Ia memulai pijitan. Hap.“Mau pijit lagi..?” ujar suara wanita muda yang kemarin menuntunku menuju ruang pijat.“Ya.”Lalu aku menuju ruang yang kemarin. “Ya itu.”Ya ampun, aku membayangkan suara itu berbisik di telingaku di atas ranjang yang putih. Hitam. Mungkin sapu tangan ini saja suatu kealpaan.




















