“Mbaaakk..?”rintihku lirih.“Ndak apa-apa non. Lebih baik batal saja!” terdengar suara mbak Siti meninggi.“Iya..iyaa! Bokep STW “Iya…”“Nggaaa mauuu ahh, mbak! Namun belum lagi sempat aku bernapas lega ia sudah melakukannya lagi. Aku berusaha mencari tahu penyebabnya dengan bertanya pada mang Narko. Dia supirku, teman bercandaku, pelindungku sekaligus kekasihku.“Dasar cowok kota bisanya cuma ngejual tampang sama ngehambur-hamburin duit orang tua saja!“ ocehnya pada suatu sore setelah mengusir seorang cowok teman sekelasku yg mencariku. Kaaaaangg!!” kali ini kudengar mbak Siti memekik …pilu.Aku tak tahu apakah itu pekik kesakitan mbak Siti atau bukan? Entah ada apa. Bedanya jika kemarin aku memergoki mereka karena aku menerobos masuk ke dalam kamar sedangkan kali ini aku belum sempat masuk.Namun aku bisa melihat dari luar kamar apa yg terjadi di dalam situ




















